Sunday, March 18, 2012

#FFHore Payung Ungu Amela



”Dari semua warna yang ada, kamu paling suka warna apa sayang?”

”Unyu!”

”Bukan unyu sayang, tapi ung-ngu. Coba!”

”Uuuuu-engg-uuuu!”

”Pintar!” Puji Ibu Amela.

Gadis kecil penggemar warna ungu itu bernama Amela. Dipanggil Amel atau Ela tetapi ia menyebut dirinya, ”Naamm-maaa-kyu Ammmm-me-yah!” 

Wajahnya selalu menyiratkan kebahagiaan selama semua warna di sekelilingnya adalah ungu.

Sebuah warna yang anggun, terdiri dari campuran warna merah dan biru. Jika tidak tepat kadar pencampurannya akan membuat warna ini terlihat norak.

Jaman dahulu kala di era Victorian, hanya para bangsawan yang bisa memakai dan memiliki warna ini. Karena barang dengan warna ini akan menjadi sangat mahal harganya akibat banyaknya kegagalan dalam proses pencampuran warna untuk memperoleh warna ungu ini.

Ibunya sering mengajaknya jalan-jalan ke mal dan jika ia mendapati suatu barang dengan warna ungu maka ia akan merengek untuk bisa mendapatkan barang itu. ”Mamm-ma! Ammeyah su-kah! Nginnn, yang i-tu!”
Menunjuk sambil menarik rok ibunya dan sedikit memaksa untuk bisa memperoleh apapun yang berwarna ungu. Tak tega, ibunya pun langsung mengambil dan membelikan barang itu untuk Amela setelahnya, anak itu akan diam dan menggenggamnya dengan erat sambil tersenyum bahagia, yah kebahagiaan yang selalu didamba semua orang.

Orang tua Amela sangat mengharapkan anak gadisnya itu bahagia, mereka akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Hal ini bukan bentuk pemanjaan dan bukan pula karena segala harta yang dimiliki orang tuanya tetapi karena Amela adalah anak yang spesial.

Tak ada anak yang bodoh, jelek maupun cacat. Semua manusia terlahir sempurna dengan segala tujuan yang Tuhan sudah rencanakan untuknya.

Kekurangan adalah kelebihan jika kita bisa menerima dan memaknai hidup dengan jalan bersyukur.

Anak itu anugerah dan sebagai orang tua siapa pun wajib mendidik, mendorong dan menyayanginya dengan baik supaya ia bisa menghargai setiap detik kehidupannya. Sekali lagi cinta adalah segala-galanya untuk membesarkan seorang anak.

Amela dengan warna ungu adalah suatu keajaiban. Sejak berumur dua tahun, gadis kecil mereka tak bergeming tak pernah bereaksi atas hal apa pun. Hingga suatu hari di kala hujan, neneknya datang memakai payung berwarna ungu. Kala itu, pintu dibukakan oleh ibunya dan Amela sedang duduk termenung menatap ke arah pintu dan sang nenek membuka-tutup payungnya demi mengibaskan air yang tertinggal di payung itu.

”Mmma...mmmaa...mmaaa!” Terdengar seperti berusaha memanggil ibunya. 

Baik ibu maupun neneknya langsung tertegun mendengar suara itu, suara gadis itu yang telah sekian lama mereka tunggu untuk didengar.

”Coba sekali lagi, apa yang mau kamu ucapkan sayang?” Ujar ibunya dengan hati bahagia, melihat anaknya bereaksi.

”Ayo Amela!” Neneknya ikut menyemangati tak sabar ingin mendengar suara cucunya lagi.

”Mmmma...mmmaaaahhh!” Sambil menunjuk ke arah pintu.

”Apa? Payung itu kali, Ma?” Tanya ibunya kepada sang nenek.

”Mungkin!” Lalu kembali membuka pintu dan mengambil payung ungu itu.

Ketika itu Amela langsung berdiri melihatnya lalu mendekat dan diam dibawah payung itu tersenyum sambil berusaha menyebutkan kata ’Mama’ .

”Mmma...mmmmaaa...mmmaaa!” Ujarnya berulang-ulang.

Itulah interaksi pertama terhadap dunia di luar dirinya akibat payung berwarna ungu. Sejak saat itu, mulailah orang tuanya mencoba menghiasi kamar tidur dan tempat bermainnya dengan warna ungu dan jika ingin bercakap-cakap mereka menggunakan pakaian dengan warna itu.

Yah, Amela anak yang spesial. Perlu waktu untuk menjangkau dan mengenal dunianya, tapi orang tuanya tak pernah putus asa. Sejak pertemuannya dengan warna ungu, Amela mulai bisa mempelajari kata-kata untuk berkomunikasi dengan orang tua, nenek dan kakeknya.

Sekali lagi ia tidak bodoh, hanya berbeda cara berinteraksinya. Dengan penanganan yang khusus ia pun bisa hidup normal sama seperti anak yang lain. Anak autis tidak memiliki tingkat kecerdasan yang rendah hanya perlu perhatian lebih untuk mengetahui dunianya, apa yang membuatnya fokus. 

*Another Indonesian FF by @victoriadoumana  

Saturday, March 17, 2012

Tipe Lelaki Impian Setiap Wanita – Bab21



Rubby sedang memperhatikan Sam menyisir rambutnya perlahan di depan kaca rias, rambut hitam kecoklatan berkilau dan panjang seperti model iklan shampo.

”Hei, ngelamunin siapa?” Tanya Sam sambil melempar boneka dari meja rias ke arah Rubby.

”Nggak, nggak penting.”

”Pokoknya aku yang paling penting bagimu, kan?” Tanya Sam manja.

Sam, adalah kependekkan dari Samantha. Seorang model blasteran yang menghabiskan masa kecil di Harlem, Belanda. Ia sangat cantik, hidungnya mancung, kulit mulus tak bernoda dan jika tersentuh pun sangat halus seperti kulit bayi. Rubby sangat mencintai gadis ini melebihi apa pun.

”Pasti, kamu segala-galanya bagiku.” Jawab Rubby dengan sebuah pelukan dan ciuman hangat mendarat di bibir Sam.

Bagi Sam, Rubby itu seseorang yang sangat teristimewa di hatinya. Ia selalu memberikan kejutan-kejutan yang berkesan untuknya.

Seperti pada 14 Februari lalu, Rubby menyiapkan makan malam di apartemennya, memasakkan makanan kesukaan Sam dan mengakhirinya dengan berlutut di depan Sam. Ia membuka sepatu pink Sam dengan lembut sambil mengecup kakinya, mengeluarkan sebuah kotak berbentuk hati dari sakunya lalu membuka kotak itu perlahan dan memperlihatkannya kepada gadis yang sangat dicintainya.

Saat itu, Sam terkesima dibuatnya, ”Oh my God, I’ve been looking for this ring! Where you get this, how did you know?

Sebuah cincin diberikannya tetapi bukan untuk jari tangan Sam yang lentik melainkan jari telunjuk di kakinya. Sebuah cincin dari platinum berbentuk hati.
 “Will you marry me, Sam?”

Tanpa ragu lagi Sam langsung menjawab, “Absolutely, I love you!

Rubby adalah orang yang selalu menjadi dambaan para gadis. Orang yang selalu memperhatikan dan tahu apa yang diinginkan gadisnya bahkan sebelum diminta. Bisa menyimak dengan baik apa yang diceritakan dan sedang dikeluhkesahkan oleh Sam. Walaupun itu hanya omelan akibat hormon PMS belaka.  

Orang tua Sam bercerai dan membuatnya harus ikut ke Indonesia bersama ibunya.

Umurnya baru tiga belas tahun saat perceraian itu terjadi dan pergaulan yang salah membuatnya terjebak ke dalam jaringan narkotika.

Diawali dengan mencoba merokok atau pun memakan brownies yang mengandung mariyuana karena di Belanda hal itu dibebaskan. Walaupun harus menunjukkan KTP, tetapi semua anak bisa saja memperolehnya dengan jalan membayar orang dewasa untuk membelinya. Kecanduan untuk itu terus berlanjut sampai di Jakarta dari mariyuana beralih ke pil ekstasi bahkan yang lebih parah kokain dan heroin.

Jika tidak bertemu Rubby pada suatu malam di sebuah klub di bilangan Jakarta Selatan. Kemungkinan besar ia sudah ‘dikerjai’ oleh dua orang pria yang membelikannya minuman.

”Hai, gadis ini bersamaku!” Kata Rubby kepada kedua lelaki yang sedang merangkul Sam keluar klub.

”Tapi gadis ini sudah bersama kami, ia sudah kami bayar!” Ucap salah satu lelaki itu sedikit marah.

”Ia datang bersamaku dan harus pulang bersamaku!” Tegas Rubby yang datang dengan dua orang security klub.

Klub itu milik Rubby dan ia sudah memperhatikan Sam sejak awal, ia tahu bagaimana bejatnya kedua laki-laki yang membuat Sam mabuk. Akhirnya kedua lelaki itu pergi dan melemparkan Sam ke arah Rubby.

Rubby membawanya ke pusat rehabilitasi, berusaha menyembuhkannya, tak pernah jemu menyemangatinya untuk bisa bertahan dalam keadaan sakaw. Bahkan ia sempat menghajar Rubby demi sebuah obat penenang, tapi Rubby tak pernah marah ataupun membencinya, ia selalu kembali dengan kasih sayang dan perhatian. Pada saat itu Sam baru merasakan namanya dicintai.

Masa lalunya memang kelam, tetapi perhatian dan cinta Rubbylah yang membuatnya sadar bahwa hidupnya itu sangat berarti. Karena kini, ia tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk Rubby juga.

Saat Sam sembuh dari kecanduannya, Rubby mengantarkan untuk kembali ke Ibunya, bersujud dan meminta maaf atas segala perbuatannya.

Rubby melihat potensi Sam dan mengarahkannya ke dunia modelling dan ia berhasil. Dunia modeling membuatnya memiliki penghasilan yang cukup dan ia pun mulai mengikuti kursus-kursus untuk menopang karirnya, seperti acting, public relations, presenter dan lainnya.

Untuk Sam, ketulusan cinta Rubbylah kunci keberhasilannya. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan tanpa dirinya. Tetapi Ibunya tak pernah menyetujui hubungannya dengan Rubby.

”Rubby lain Mah, ia segala-galanya buatku!”

”Ingat, walau bagaimana pun baiknya Rubby tapi Mama tidak akan pernah mengijinkan kamu menikahinya!”

”Tapi di Belanda kan bisa!”

” Mama tidak akan pernah merestui hubungan kamu, titik!”

Sam paham benar bagaimana sakit hati ibunya terhadap ayah yang meninggalkan mereka demi seorang lelaki. Ia pun sakit hati terhadap semua laki-laki akibat kelakuan ayahnya.

Rubby itu bernama lengkap Rubyanti Swari, anak perempuan semata wayang di keluarganya, besar bersama ke-empat kakak laki-lakinya tanpa kasih seorang ibu.

*Another Indonesian FF by @victoriadoumana 
#FFHore Cinta yang Menyembuhkan EXTENDED version

#FFHore Aku Sakit Hati Karenamu, Gigi!


Paling risih kalau harus tertawa, karena susunan gigi bagian atasku jauh lebih mancung ketimbang yang bawah. Yah, aku sama seperti manusia lain yang tidak mensyukuri keadaan fisiknya. Tidak jelek, hanya hal tersebut mengurangi rasa percaya diri.

Padahal posisinya di dalam mulut tapi ternyata sangat mempengaruhi tampilan wajah secara keseluruhan. Mungkin beberapa orang tidak perduli jika ke-32 bagian ini tumbuh tak beraturan atau mungkin juga karena tidak ada biaya lebih untuk itu, seperti aku. Untuk biaya kuliahku saja orang tuaku harus mencicil ke Bank dengan menggadaikan rumah.

Dengan berat 50 kilogram, tinggi 175 centimeter dan lingkar dada 34 B sebenarnya sudah cukup untuk menjadi model tetapi tiap-tiap kali ikut casting,
”Sayang, padahal badan kamu itu oke! Bahkan sebagai model dada kamu tidak rata, cukup berisi, hanya... kurang cantik dari samping. ” komentar seorang produsen iklan.

”Di behel dulu deh, baru nanti kembali ikut casting lagi disini.” Ujar seorang desainer.

Selalu saja disinggung soal itu lagi. Sakit hati jadinya, karena gigiku ini.

Bagaimana bisa jadi model, baru mencoba amatiran saja sudah ditolak. Kejamnya dunia ini, soal fisik selalu dipermasalahkan. Kapan bisa mempercantik diri, jika memulainya saja sulit.

Akhirnya aku menyerah, setiap kali ada lowongan casting kutepis. Hingga suatu saat ada pengumuman dari Kampus Kedokteran Gigi; ”Dicari Pasien untuk Memakai Behel Gratis”

Aku pun mencari si pemilik pengumuman itu ke Kampus Kedokteran Gigi.

”Hai, aku mencari Anton yang memasang pengumuman ini.” Tanyaku kepada salah seorang mahasiswa disana.

” Tonnn! Ada yang cari kamu tuh, calon pasien!” Teriaknya.

”Hai, Anton. Kamu mau, jadi bahan percobaanku?” Tanyanya ragu setelah memperhatikanku dari bawah sampai atas.

”Memangnya kenapa?”

”Habis kamu sepertinya tidak punya masalah soal fisik, mengapa mau memakai behel?”

”Coba perhatikan baik-baik susunan gigiku ini!” aku langsung membuka mulutku di depannya.

”Hmm, sebenarnya masalah kamu ada di rahang bukan di gigi. Tetapi bisa diperbaiki lewat pemasangan behel juga sih, tapi kasus yang kucari bukan yang seperti ini, yang benar-benar kacau sekali susunannya, yang giginya tumpang tindih demi pemenuhan kasus untuk jurusan Orthodontis-ku ini. ”

Habis harapanku untuk memperbaiki susunan gigiku ini, begitu mendengar perkataan Anton.

”Eh, tetapi kalau kamu mau, aku masih bisa membantumu sih. Cobalah datang ke klinik tempatku KKN.” Sambil menyodorkan sebuah kartu nama.

”Benarkah? Tetapi aku berniat mencari yang gratisan, karena kutahu biayanya pasti menghabiskan delapan juta keatas.” Jelasku lagi.

”Iyah, bisa diatur kok pembayarannya.” Ujarnya lagi.

”Oh, Baiklah.”

”Terima kasih yah untuk merespon pengumumanku.”

”Sama-sama.”

Akhirnya aku mengunjungi klinik itu dan ternyata harus membuat janji terlebih dahulu untuk bertemu dengan dokter gigi yang dimaksud tepatnya orthodontis, ternyata berbeda antara dokter gigi umum, ahli bedah mulut dan orthodontis. Baru tahu aku.

Kalau untuk tambal gigi dan cabut gigi itu biasanya dengan dokter gigi umum. Kalau masalah gigi belakang yang tumbuh terlambat atau miring dan membutuhkan operasi besar karena mengganggu, harus dengan ahli bedah mulut lalu mengenai masalah kecantikan atau estetika itu bagiannya orthodontis.

Akhirnya aku datang kembali dan bertemu dengan dokter Rudi bagian orthodontis di klinik tersebut dan Anton pun ada disana bertindak sebagai asistennya.

”Hai, terima kasih mau berkunjung ke klinik.” Sapa Anton ramah.

Mereka berdua mengamatiku lama sekali dari ujung kaki sampai rambut dan terlihat berdiskusi kusyuk lalu mempersilahkan aku duduk di kursi periksa.

”Silahkan duduk!” Anton mempersilahkan aku duduk dan menarik meja berisi alat-alat untuk mempermudah diriku mendudukinya.

Ketika menutup kembali meja itu tak sengaja tercium parfumnya, segar dan wangi. Juga kulihat ia memakai kalung emas di lehernya ketika ia menundukkan badan memakaikan tissue penadah air liur di dadaku.

Sang dokter akhirnya memeriksaku, bahkan mencetak gigiku. Sekali lagi mereka berdua mengamatiku.

Setelah pemeriksaan selesai, aku menanyakan biaya dan cara pembayarannya.
”Jadi bagaimana Ton, Dokter Rudi?”

”Gampang, dua hari lagi kembali yah untuk cabut gigi.”  Jawab Dokter Rudi dan di tambah kedipan Anton.

”Jadi gigiku harus dicabut juga?” Tanyaku agak sedikit ketakutan.

”Iyah, kalau mau di behel harus dicabut giginya dan untuk kamu harus 4 gigi seri di depan , 2 atas dan 2 bawah agar seimbang untuk menarik rahang atas menjadi selaras dengan rahang bawah.” Jelas dokter Rudi lagi.

”Tenang, nanti pada saat dicabut kamu tidak akan merasakan apa-apa kok.” Tambah Anton.

”Lalu soal biaya bagaimana?” Tanyaku lagi.

”Gampang, dokter Rudi yang mengatur.” Jawab Anton.

”Baiklah.”

Aku memang sedikit heran, tapi inilah saatnya aku memperbaiki diri. Beruntung aku menemukan pengumuman itu, lagipula Anton juga orangnya lumayan.

Sejak saat itu aku rajin menyimpan lowongan casting model. Walaupun mungkin membutuhkan waktu tetapi biasanya setelah memakai behel, seperti temanku ia sudah bisa berkarir di catwalk.

Aku kembali ke klinik itu dua hari kemudian, sepi tak ada pasien lain selain diriku. Sepertinya aku adalah pasien terakhir, pikirku. Kuberdoa dalam hati untuk mengusir ketakutan dan bayangan kesakitan setelah dicabut nanti.

”Hai, Silahkan masuk!” Anton mengajakku masuk ke ruang periksa.

Sambil tersenyum aku mengikutinya. Ia pun mempersilahkanku duduk di kursi periksa dan tak lama dokter Rudi pun datang.

”Sudah siap kehilangan gigi?” Tanya dokter Rudi.

Mengangguk ragu.

”Hahaha, jangan khawatir tidak akan sakit kok.” Mereka mencoba menenangkanku.

”Ahh, itu apa dok?” ujarku begitu melihat jarum suntik.

”Ini supaya kamu tidak sakit, coba kemarikan lenganmu.” Anton menarik lenganku dan mengusapkannya dengan kapas beralkohol.

”Kok di lengan dok?” Ujarku sedikit heran, seingatku biasanya mereka menyuntikkan di gusi seperti waktu pencabutan gigi gerahamku beberapa tahun yang lalu.

”Iyah, kamu tidak mau merasa sakit kan?” Jawab dokter Rudi santai.

Ketika mereka akan menyuntik, terdengar suara keras dari luar.

”Dokter maksiat! Keluar kamu!”

Pintu ruang periksa di dobrak keras, kulihat beberapa bungkus Durex berjatuhan dari sebuah box akibat guncangan pendobrakan itu, empat orang memegang pistol mengecam dan langsung memborgol dokter Rudi dan Anton yang masih terperanjat.

”Hai, kamu tidak apa-apa?” Tanya salah seorang dari mereka.

” Tidak, ada apa ini?” Tanyaku heran.

”Kamu Astri kan?”

Kujawab dengan anggukan.

”Kami dari kepolisian dan menurut laporan resepsionis di klinik ini akan terjadi lagi penipuan terhadap gadis yang ingin memakai behel gratisan. Sudah banyak kasus yang kami dengar tentang dokter dan asistennya ini. Kami harap kamu mau menjadi saksi di pengadilan nanti, untuk mengadili dokter gigi maksiat ini.”

Masih tertegun di kursi periksa. 


*another FF by @victoriadoumana