Wednesday, February 29, 2012

JUST ANOTHER E-LOVE #20HariNulisDuet With @Ririntagalu


Lefteris: Hi, i already book the ticket
Darsih : Ahh, finally. looking forward to meet you soon...

Chat terakhir dengan Lefteris, sebelum ia datang ke Indonesia. 
enam bulan sudah Darsih berhubungan dengan pria Yunani, yang dikenalnya lewat sebuah website. Perasaan senang bercampur khawatir menghinggapinya menunggu kedatangan Lefteris.

Sudah dua laki-laki yang pernah berhubungan dengannya di internet dan berjanji menemuinya tetapi berakhir dengan penipuan. Ia sangat berharap Lefteris adalah nyata, tidak hanya sebuah profil yang dibuat untuk menipunya.

Sebuah pesan singkat dari Lefteris diterimanya ketika menuju airport dari Bogor.
Transit in Malaysia
in few hours will arrived in Jakarta
can’t wait to see you.

[Beberapa jam kemudian]

Darsih mengetikkan pesan ke ponsel Lefteris,
Are you landing yet?

[Tidak ada balasan]

Darsih mulai berfikir bahwa Lefteris tidak nyata, ia hanya salah seorang dari profil penipu di website jodoh tersebut.

[Mulai cemas dan kecewa]

TIba-tiba ponselnya berbunyi, pesan singkat dari Lefteris.
Wait for me, there is a problem in immigration

[Akhirnya tiga jam penantian berakhir]

Seorang Lelaki muncul dari balik bilik kedatangan, kemerahan dengan bewok tipis keabuan menghiasi wajahnya tak jauh berbeda dari yang terlihat di foto dan webcam.

”Ia nyata, lelaki itu benar-benar disini, menemuiku.” Darsih bersorak dalam hati.

Kikuk menerima pelukan dari Lefteris yang kegirangan menemui Darsih. Salah satu akibat perbedaan kultur, tetapi akhirnya mereka bisa mengatasinya beberapa menit kemudian.

Lelaki itu setelah menghabiskan waktu berjam-jam di pesawat ditambah transit masih harus melakukan perjalanan sekitar lima jam ke Sukabumi, belum ditambah macet di jalan raya Bogor. Walaupun Darsih yang menyetir selama perjalanan, tetap saja harus diberi acungan jempol pada lelaki yang sedang membuktikan cintanya itu.

Darsih menginginkan Lefteris bertemu orangtuanya sebelum mereka berdua pergi liburan ke Bali. Adat istiadat ketimuran tetap dipegangnya.

Setelah melewati Jakarta, beristirahatlah di tempat peristirahatan sebelum memasuki Ciawi.

Terjebak macet antrian angkot di Jalan Raya Bogor, Lido, Cigombong, Cibadak  yang lainnya setelah melewati Ciawi-Bogor. ~Long Ride to Sukabumi episode 1  

 Akhirnya tiba di rumah  Darsih.
"This is your house?"
"Yess. What's in your mind?"
"Sweet, I love this."
Darsih senang dengan tanggapan Lefteris.

"This is my mom, and dad," kata Darsih ketika memperkenalkan kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya tidak terlalu banyak komentar mengenai Lefteris, dan mengapa Darsih memilih dia yang berasal dari luar negeri, dunia yang berbeda dengan mereka. Mereka tidak punya pilihan ketika putri mereka satu-satunya sudah memasuki usia yang tidak muda dan masih lajang.

"They're still energic," komentar Lefteris tentang orangtuanya. Darsih merasa Lefteris tahu bagaimana membuatnya merasa senang.

Masa liburan di Bali.
"You're beautiful," puji Lefteris. Dan sebuah kecupan mendarat di dahi Darsih.
Darsih tidak merasa kikuk lagi, dia sudah terbiasa dengan ungkapan sayang dari Lefteris.

Makan malam keempat di Bali.
Kali ini Lefteris sudah berlutut di hadapan Darsih.
"Will you marry me?" Darsih terperangah. Dia tidak menduga Lefteris akan melamarnya, secepat ini.
Tapi, melihat Lefteris yang berlutut di hadapannya ditambah dengan bunga mawar putih di tangan Lefteris dan cincin di tangan yang lain, membuat pertahanan Darsih musnah. Dia mengangguk. Dan langsung tenggelam di pelukan Lefteris. Kini, sebuah kecupan berada di bibirnya.

Hari keenam ketika mereka sedang duduk di beranda hotel.
"When we married, we will stay in Indonesia, right?"
"Don't you want to stay in Greece?"
"Not like that, but I can't leave my parents here alone. They need me here,"
"So, we will take them with us." ucap Lefteris enteng. Darsih merasa salah. Dia tidak mungkin memaksa ibu dan ayahnya ikut ke Yunani, memaksa mereka beradaptasi di negeri orang.

Liburan usai.

Lefteris harus kembali ke negaranya dan meninggalkan Darsih, wanita yang baru ditemuinya walaupun sudah berhubungan lama di internet.

Keduanya memang bahagia tetapi saat-saat seperti ini membuat mereka sangat sedih, bertemu dengan cinta mereka yang telah terpisah sekian waktu karena jarak tetapi harus kembali terpisah dan berhubungan lewat internet lagi.

Di bandara Soekarno Hatta. Mereka berusaha tegar.

”I only able to accompany you until here.” ucap Darsih menahan kepedihannya di depan pintu masuk keberangkatan.

“Why? You need to go now? We still have time together.” Lefteris menarik tangannya.

“No, cannot! I don’t have the ticket.”

“Owh, I thought everyone can go until the closes to the airplane.

“No, we can’t. Need special permits.”

“Ok, wait here. I’ll be back!”

Setelah Lefteris selesai check in ia kembali menemui Darsih, keduanya tak rela harus berpisah lagi. Keduanya tetap berusaha menahan air mata mereka.

Akhirnya mereka pergi membeli coffee dan kue, keduanya mencoba mengalihkan agar tidak terbawa sedih dengan mengecek ponsel masing-masing sambil melihat jamnya.

“You have tissue, Darsih?”

Saat itu mata mereka bertatapan dan Darsih mendapati mata lelaki yang baru kopi darat dengannya beberapa minggu, merah dan basah.

Dalam hati Darsih berkata, “Betapa besar cinta lelaki ini kepadaku, ia menangis untukku, tangisan pedih karena takut kehilangan”

Pada saat tatapan mata mereka bertemu, wajahnya terasa panas dan matanya pun mulai basah dan kelopaknya tak bisa lagi menampung air matanya. Mereka berdua menangis dan menyadari bahwa cinta mereka memang nyata, perasaan mereka sama.

Darsih tetap harus melepas Lefteris kembali ke negaranya begitu juga Lefteris dengan berat hati harus pergi meninggalkan wanita yang dicintainya dan berharap agar Tuhan merestui dan melancarkan segalanya agar mereka bisa bersama lagi dalam waktu dekat.

Di pintu check in keberangkatan luar negeri, terjadi lagi adegan Ada Apa dengan Cinta, hanya saja berbeda pemain. Keduanya saling berpelukan dan berciuman tak rela terpisahkan dengan ditonton sekian banyak orang yang sedang lalu lalang di bandara. 

Friday, February 24, 2012

IMPIAN DI MAP BIRU Day 15 #20HariNulisDuet Bareng @Teguhpuja


Sebuah map biru tersimpan rapi di atas meja kerjaku. Belum sempat aku membukanya. Masih ada beberapa project lain yang pekan ini harus diselesaikan. Aku rasa, map biru itu masih bisa menunggu.

Tapi entah mengapa tergoda juga untuk mengintip isi map biru itu, akhirnya kubuka juga. Ternyata proyek membuat gedung tertinggi di Dubai.

Benar-benar mengejutkan. Aku tidak pernah menyangka akan ada map biru berisi proyek seperti ini mendatangi kantorku. "Sebuah tantangan baru!"

Mampukah aku? Aku meragukan kemampuan diriku sendiri tetapi tertantang sebagai seorang arsitek.

Dubai, sebuah proyek serius yang jika berhasil ditaklukkan akan menaikkan nama firmaku dan sejumlah proyek besar akan antri untuk kami kerjakan.

Aku tahu, ada sekian hal yang harus kusiapkan. Bukan saja konsentrasi penuh tetapi juga dukungan dari rekan-rekan kerjaku. Akan ada banyak sekali perbedaan pendapat yang muncul pada saat diskusi mengenai pengambilan proyek ini. Jika berhasil maka ini akan menjadi satu pencapaian terbesarku.

Kututup map biru itu dan kuminta semua orang yang memungkinkan untuk terlibat ikut mendiskusikan dalam rapat besok.

Esok hari semua berkumpul di ruangan rapat, satu persatu proyek yang sedang berjalan dibahas, sebelum akhirnya memasuki pembahasan proyek map biru.

”Baik, semua proyek yang sedang berjalan mohon diselesaikan tanpa mengurangi prioritas dan kualitas pelayanan firma kita. Ada satu lagi proyek baru yang menanti, apakah ingin dibahas sekarang?”

Beberapa orang menatapku ragu. Terlihat wajah-wajah keberatan menerima proyek baru.

"Bagaimana?"

Salah satu dari mereka akhirnya mengucapkan sesuatu. Sebuah penolakan kalau boleh kukatakan. "Kami rasa, kita belum sepenuhnya siap untuk proyek baru, Pak.”

"Apakah ada di antara kalian yang berpendapat sama?"

Beberapa akhirnya mengacungkan tangan dan meminta interupsi. Mata-mata yang ragu itu terlihat semakin jelas. "Masih ada proyek kita yang belum selesai, Pak. Saya takut proyek yang sudah ada sebelumnya, tidak selesai dengan maksimal. Bagaimana dengan kemungkinan itu Pak?"

”Segala kemungkinan itu ada, saya berfikir untuk mengajak firma dan perusahaan konstruksi besar lainnya dari beberapa negara demi terlaksananya proyek ini. Terus terang ini proyek impian, jika berhasil memenangkan tender proyek ini maka perusahaan kita bisa go public.”

”Jika berhasil, jika tidak? Bagaimana pengaturan tanggung jawabnya? Untuk memenangkan proyek ini kita butuh semua arsitek untuk terlibat memikirkannya tidak cukup hanya 1-2 orang arsitek saja. Sedangkan proyek yang sedang berjalan tetap harus diselesaikan dengan baik.”

Rekanku menyudutkan mengenai pembagian tugas, dan pastinya semua orang ingin terlibat dalam proyek impian, tetapi jika gagal memenangkan tender dan proyek lain terbengkalai nama firma dipertaruhkan.

"Maka dari itu saya meminta dukungan kalian semua. Saya tentu tidak bisa memutuskan segala sesuatunya sekehendak hati tanpa mempertimbangkan pendapat dari kalian."

Proyek ini sudah aku mimpikan sejak lama dan tidak pernah berpikir bahwa semua ini harus kulepaskan begitu saja tanpa berusaha memperjuangkannya.

"Saya rasa kita jangan serakah, pengalaman dengan tender sebelumnya, mengajarkan kita harus matang dalam membagi prioritas agar tidak terjadi ketimpangan."

"Saya tidak sedang meremehkan proyek yang sedang berjalan. Tetapi ini proyek besar, dan saya meminta kesedian anda semua untuk ikut merumuskan yang terbaik sebagai penyelesaiannya."

Aku menghela nafas, semua rekanku meragukan kesanggupan mengelola proyek ini dan dalam pikiranku hanya ada satu orang yang bisa kugandeng untuk mewujudkannya, hanya saja ia berada di salah satu firma kompetitor kami.

Tanpa memutuskan melepas proyek atau tidak, rapat kutangguhkan. Dalam hati ku bertekad untuk mencari jalan keluard demi impianku.

Kuambil ponsel yang kutinggalkan di atas meja kerjaku tadi. Kucari perlahan namanya, nama orang yang sanggup membantuku sekarang.

Degup jantungku berdetak lebih cepat sekarang. Ini sebuah keputusan yang penting dan aku tidak boleh salah melangkah. Haruskah aku tetap lanjutkan?

Aku ragu dan sekaligus takut dengan keputusan yang ingin kuambil.

Tetapi aku sangat menginginkannya, mewujudkan impianku lebih dari apa pun juga. Kuputuskan untuk meneleponnya, kudengar nada tunggu dari ponselnya, orang yang pernah berada di hatiku, yang berambisi sama tetapi berakhir menjadi rival.

Begitu diangkat aku mematikan ponselku, aku ragu berbicara dengannya. Tetapi ia malah berbalik menghubungiku, ponselku berdering dan nama Septi terlihat di ponselku, hingga dering yang terakhir baru kuangkat.

”Halo, apa kabar?” Tanyanya langsung.

”Maaf, salah tekan!” Jawabku seadanya.

Long time no heard from you?”

“Iyah, sorry. Busy.”

“Terlintas semalam untuk menghubungimu, tiba-tiba kamu meneleponku.”

“Oh ya, ada apa? “ Tanyaku penasaran.

Our dream project, Dubai!”

Deg, aku terkejut. Ternyata firmanya pun memperoleh tawaran proyek itu.

"Sebentar. Maksudmu apa? Kamu dapatkan proyek untuk membuat bangunan di Dubai?"

"Yup, tawarannya datang sekitar sepekan yang lalu. Aku mengambilnya langsung tanpa membicarakan ini dengan yang lain. Ini proyek besar dan aku harus ingin memperoleh tendernya sesegera mungkin."

"Wait!"

"Ya?"

You don't talk about this to your colleagues? I mean, how could you?"

"Terlalu banyak pertimbangan kadangkala tidak baik juga. Aku rasa harus ada seseorang yang berani mengambil keputusan dan aku punya wewenang untuk itu."

Aku terdiam mendengarnya. Terkadang ia ada benarnya.

“Hei, kamu masih disana? Kok diam sih? Lebih baik kita bicarakan sambil makan malam, bagaimana?” Tawarnya.

”Baiklah, kujemput pukul delapan malam?”

”Ok, kutunggu.”

Saat makan malam,
Aku memandanginya dan teringat satu hal yang membuat kami berbeda adalah prinsip hidup. Ia rela menghalalkan segala cara untuk sukses.

”Kamu masih suka makan dengan memotong-motong dagingnya terlebih dahulu dari pada memotong sedikit-sedikit sambil dimakan.”

You still remember?” Ujarnya sedikit terkejut.

Tentu saja aku mengingatnya, aku selalu memperhatikan hal-hal kecil yang dilakukannya. Proyek ini membawa kami kembali bersama.

Demi tender proyek ini, setiap hari, sepulang kerja, kami melemburkan bergantian antara di apartemenku dan apartemennya kami tidak memberitahukan siapapun, kami berniat merahasiakan sampai tender itu benar-benar ditangan kami.

Proposal akhirnya bisa diselesaikan sebelum tender dijatuhkan dan kami berkesempatan mempresentasikannya.

Tetapi tender tidak kami peroleh. Aku merelakannya, tetapi Septi tidak.

Beberapa minggu kemudian, Ia menelepon dan memberitahuku bahwa ia memperoleh tender itu.

How?” tanyaku.

You don’t need to know how I got it. You’re with me or not?

“Kamu melakukannya lagi, Iya kan?”

”Kali ini aku melakukannya untukmu dan impian kita.”

Kututup ponselku. Kuingat kembali apa yang mengakhiri hubungan kami, ia rela tidur dengan orang yang berwenang mengambil keputusan dalam memenangkan tender. Tak ada laki-laki yang tak tergoda dengan kecantikan dan kemolekkannya walaupun begitu ia tetaplah arsitek yang piawai.

Aku memang tidak pernah menyetujui caranya memperoleh tender tetapi demi impianku, kali ini aku memberikan pengecualian.  

NOMADEN #20HariNulisDuet Day 14 bareng @milliyya


Kukemasi barang-barangku sekali lagi, aku harus pindah LAGI!
Hidupku bagaikan komedi putar tak pernah berhenti berputar untuk menetap. Tak bisa kusalahkan Tuhan karena harus begini. Hanya saja terkadang aku lelah. Harus berulang-ulang mengakhiri hubungan dengan laki-laki yang mencintaiku, karena selalu mencintai laki-laki di luar kaumku. Kami adalah GYPSY.

Namaku Simza, yang berarti suka cita. Mungkin karena nama itu aku pun bisa mensyukuri hidup berputar di dalam kotak trailer.

Bisnis kami adalah membuat Pasar Malam yang didalamnya ada komedi putar, beserta mainan dan atraksi lain untuk bersenang-senang.

Sebenarnya aku bisa menemukan kebahagianku ketika berputar diatas kuda-kuda komedi putar, hanya saja semakin ku tumbuh besar semakin tidak memungkinkan untuk menungganginya.

Pekerjaanku sebenarnya agaklah sulit hanya seringkali aku memperoleh bersitan mimpi dan bayangan akan masa depan seseorang, tetapi sampai saat ini aku belum pernah bisa membayangkan masa depanku.

Terkadang aku menggunakan tarot, kartu yang membantuku mengungkap peristiwa yang telah dan akan terjadi pada diri seseorang.

Wajahku agak lain dari Gypsy pada umumnya, mataku berwarna biru dan rambutku pirang, konon kudengar ayahku bukanlah Gypsy ia adalah seorang dari bangsa Yunani. Orang tua ayahku tak mengijinkannya menikahi ibuku, sehingga ibuku menikah dengan Boldo, ayah angkatku. Aku ingin suatu saat bisa bertemu dengannya.

Kali ini kami kembali membuka pasar malam di dataran Yunani, tepatnya di Kalambaka setelah mengelilingi Eropa. Daerah ini terkenal dengan bukit bebatuan yang dinamakan Meteora. Disana banyak sekali monasteri yang berusia ratusan tahun.

Ketika membuka tarotku, tiba-tiba muncul sebersit bayangan yang wajahnya menentramkan tidak seperti Boldo, ia lain. Tapi aku tak bisa membacanya, seperti tertutup kain hitam yang tebal dan tak bisa kutembus. Aku penasaran dibuatnya tetapi tetap saja aku tak bisa menembusnya.

”Hai, ada apa? Mengapa wajahmu seperti melihat hantu?” Sapa Stevo memasuki tenda ramalanku.

Stevo adalah bagian dari kami, anak teman Boldo. Ia selalu memperhatikanku tetapi aku hanya menganggapnya teman walaupun ia pernah mengatakan suka padaku.

“Tidak, tidak, kenapa-kenapa.” Jawabku sambil tersenyum.

”Baiklah, bersiaplah! Kita akan mulai membuka pasar malam ini, dandan yang cantik!”

Ku jawab dengan kedipan di mata.
Stevo keluar keluar dari tenda, ia menyingkap tirai dengan sebelah tangan kanannya. Topi koboinya sedikit terusik dan hampir jatuh jika ia tidak menahannya dengan seketika. Beberapa detik kemudian Stevo, punggungnya tidak terlihat lagi dan tirai tenda yang berwarna merah marun gelap sudah kembali seperti semula; menutup ruangan.
Aku menarik nafas pelan-pelan, kehadiran Stevo, membuatku sedikit kaget setelah melihat gambar-gambar pada kartuku. Aku melihat kembali tarot dan sejenak berkonsentrasi dengan pesan yang disampaikan. Aku tidak melihat apapun, tidak! Bayanganku masih tetap gelap dan tak ada petanda.
Keringat kecil membasahi keningku, aku merasa cemas dan penasaran dengan ramalanku sendiri. Pandanganku terhalang kabut yang entah kenapa begitu tebal.


“Simza, kau sudah bersiap?” teriak Stevo, dari luar.


“Ya, sebentar!”


Dasar kartu sialan! Bentakku, pada diri sendiri. Aku bersiap dengan segala sesuatu yang harus di selesaikan, sudah waktunya aku bekerja.


Beberapa orang memasuki tendaku, malam ini cukup ramai rupanya. Untungnya tarot dan ramalanku lancar hingga kemunculan tamu terakhir, sosoknya seperti wajah lelaki yang pernah melintasi pikiranku.


Aku tak bisa membuka tabir atau melihat apapun dalam tarot maupun pikiranku seperti tertutup kain tebal lagi yang tak bisa kutembus.


”Hai, apa yang kau dapati di dalam kartu-kartu mu tentang diriku?” Tanya lelaki itu sopan.
Ia terlihat dewasa, sosok yang ternyata cukup menarik perhatianku. Ahh, aku jatuh hati lagi.

“Maaf, aku tak bisa membaca tarot untukmu. Tak perlu bayar, ada sesuatu yang menutupi dirimu yang tak bisa kutembus.” Ujarku menjelaskan, ketika ia menyodorkan uang.


”Tak mengapa, terimalah! Kau berhak mendapatkannya, mungkin besok aku akan kembali lagi.”


“Baiklah, terima kasih! Boleh kutahu namamu?”

“Giorgos.”

Namanya seperti tak asing kudengar. Dan, perasaanku merasakan sesuatu hal yang lain. Yang lain dari biasanya, perasaan yang tidak kumengerti. Seperti timbunan tanah yang terbongkar, dan menemukan sesuatu disana. Aku seperti pernah mengenal lelaki itu, jauh sebelum hari ini.


Aku terhenyak dari lamunanku, laki-laki itu telah menghilang dibalik tirai. Ketika aku mengintip sisa sosoknya dibalik jendela bayangannya tak bisa kutangkap, namun decak suaranya masih terngiang ditelingaku ketika ia menyebutkan namanya, “Giorgos.”


Dan sepucuk perasaan merambat dari ujung kepala hingga ujung kaki, aku melihat kabut dalam kartu tarotku dan dalam kartunya. Barangkali ini yang disebut kebetulan; sesuatu yang kita alami dan tidak direncanakan.
Ia kembali datang keesokkan harinya, walaupun aku masih tidak bisa membacakan ramalan untuknya.


”Hai, bagaimana kabarmu? Sudah bisa membaca ramalan untukku?” Begitu ia menyingkap tirai tendaku.


“Maaf, aku tak mengerti mengapa ini bisa terjadi padaku. Tak ada petunjuk apa pun tentang dirimu di tarotku.” Jelasku.

“Tak mengapa, aku hanya ingin bertemu denganmu.”

Sejenak kutertegun dengan kalimat barusan, tetapi entah mengapa aku membiarkan diriku hanyut bersamanya. Berjalan keliling bersamanya menghabiskan malam di area pasar malam.

Aku merasakan bahagia lagi. Jatuh cinta lagi! Walaupun aku tahu akan berujung pada kepedihan, tetapi kubiarkan juga larut pada kata yang bernama cinta.

Terlalu banyak pepatah yang mengatakan bahwa cinta adalah permainan yang berbahaya. Bola api yang kian lama akan membesar dan dengan mudahnya akan membakar diri kita sendiri. Tapi, ketahuilah jatuh cinta itu mengasyikan, apalagi jika kamu telah merasakan kepedihan karenanya. Semakin kamu merasakan sakit yang disebab cinta maka disanalah cinta akan begitu mencandu dan menggiurkan untuk diresapi.

 “Giorgos.” Panggilku lembut.

 “Ya”, dia membalas dengan suara yang halus.

Ditengah ramainya pasar malam dan kerlap-kerlip lampu-lampu permainan, aku merasakan keakraban yang misterius dengannya. Seperti kekasih lama yang kembali.

 “Apa yang kau rasakan malam ini?” tanyaku.

Giorgos, terdiam. Senyumnya melingkar dengan manis, matanya menatapku dengan penuh perasaan. Disela-sela keributan pengunjung mungkin tidak ada yang memperhatikan keadaan kami. Kami mengelilingi tenda-tenda dan bermacam-macam permainan. Ia banyak bercerita tentang banyak hal, tentang Flo; burungnya yang hilang didalam sangkar. Tentang Fli; ikan kesayangannya yang malang-karena ditemukan mati kelaparan...

 Giorgos, seperti pencerita ulung dan aku, bocah yang merindukan kasih sayang seorang ayah. Ia menggenggam jemariku dan menempelkan didadanya. kurasakan debaran jantung yang kencang didadanya sama seperti yang sedang kurasakan.

 “Bagaimana kalau kita kembali?” Pintanya tiba-tiba. Aku menurutinya.

Sekembalinya di depan tenda, ketika ia tengah menciumku. Aku terhenyak oleh seruan ibuku, ”Giorgossss, hentikan!”


”Drinda?” Giorgos terkejut.


”Ibu, kenal Giorgos?”


”Ia adalah ayahmu!”

Kembali kepedihanku berulang, kukemasi barang-barangku lagi untuk pindah dan berputar tanpa menetap. 

Thursday, February 23, 2012

Mengidentifikasi Profil ’Nyata’ atau ’Palsu’ – Too good to be truth


Terkadang memang tidak sesuai dengan profil sebenarnya, walaupun ada juga yang benar. Tetapi pastinya tetap tergoda untuk berhubungan walaupun hati anda mengatakan ’tak mungkin’ karena setiap orang memiliki standar kriteria tinggi dalam mencari pasangan hidup.
Edisi ini akan berbicara mengenai tip dan trik mengenali profil ’gebetan’ anda adalah benar atau palsu?

Pernahkah menonton film tentang pemilik Facebook, mengapa dia membuatnya? Karena ia merasa tidak ‘diakui’ dalam dunia nyata maka ia membuat Facebook untuk membuatnya terlihat ‘cool’ di dalam dunia maya. Jadi berhati-hatilah dalam memilih profil di situs jejaring sosial di internet, karena tidak semua orang membuat profil pribadinya secara jujur.

Ketika akan mengidentifikasi sebuah profil apakah nyata atau palsu, yang paling utama bisa dilihat adalah; FOTO; semakin banyak fotonya, dan sering di-update berarti itu adalah profil aslinya kecuali celebriti, pasti asistennya yang melakukan. Kalau fotonya hanya satu dan anda meminta foto terbarunya, tetapi ia selalu menghindar atau memberikan berbagai macam alasan maka pembuat profil ini ada kemungkinan bukan orang yang ada di foto.

Kedua adalah cek dan ricek KOMENTAR di wall dari teman-temannya. Seperti contoh kalau kebanyakan, ‘Thx for the add.’, ’Salam kenal’, dan lain-lain yang sifatnya baru kenal maka teman-temannya hanya sekedar kenal di situs jejaring sosial itu bukan teman dalam kehidupan sebenarnya.

Oke, kita tak mungkin langsung jatuh cinta hanya dengan melihat sebuah profil, bukan? Jika profil itu fotonya cantik atau ganteng, banyak temannya, lalu pekerjaannya bagus mengapa dia masih single? Tentunya tidak bisa langsung dipercaya, apalagi di dunia cyber, siapapun dia bisa menjadi siapa saja?

Yah, terkadang kita tergoda untuk tetap berkenalan bahkan menjalin hubungan yang serius, tetapi sebelum mengenal dengan baik, tetaplah berhati-hati; apalagi kalau tiba-tiba minta alamat mau mengirimkan hadiah, dan pada saat kiriman akan datang, ada telepon dari perusahaan pengiriman bilang harus bayar pajak, ada kekurangan biaya pengiriman dan lain-lain, maka ini adalah penipuan.

Walaupun begitu dari sekian banyak profil penipu yang ada, pastilah ada profil jujur yang benar-benar sedang mencari jodoh diluar sana, jika memang ini cara anda untuk mendapatkan jodoh, anda pasti akan menemukannya, jika tidak masih banyak cara lain untuk mendapatkan pasangan yang benar-benar mencintai anda yang paling penting jangan pernah putus asa.
Kita bisa berusaha dan berencana demi mencapai sebuah tujuan tetapi Tuhanlah yang menentukan jalan manusia, dalam segala hal berdoalah agar bisa ditunjukkan si ’dia’ yang sedang berhubungan dengan anda adalah orang yang tepat untuk anda atau tidak.

PEMBUNUHAN OLEH KATA #20HariNulisDuet Day 13 Bareng @ittibanwife


Mengapa tak sanggup ku melawan kata-kata yang menghujaniku. Tak dapat ku membalasnya. Hanya menorehkan guratan di hatiku.

”Jelek!”

Kumenundukkan kepalaku, seperti kura-kura menyembunyikan kepalanya.

”Bodoh kamu, ini hanya tempat orang-orang Cakap bukan orang sepertimu!”

Kumenyingkir tanpa berpaling.

Ku tak ingin kembali ke tempat itu, aku ingin diam di kamarku yang damai. Dimana kudapati ketenangan dan diriku seorang.

”Mengapa anak itu bolos sekolah lagi!” Ayah berteriak memarahi ibuku.

”Sudahlah Pak, ia ingin menyendiri dulu!” Bela ibu.

”Kamu selalu memanjakannya! Jangan dibiarkan seperti itu!”

Habis itu ayah berlari ke kamarku, dengan sabuk di tangannya.

Cukup hatiku saja yang tersakiti, aku tak ingin ragaku merasakan hal yang sama. Demi menghindari sabuk itu, aku bergegas melangkahkan kaki ke luar rumah menuju sebuah tempat yang berlabel institusi pendidikan, namun bagiku itu tak lebih baik dari neraka.

Terlambat ke sekolah menyebabkan diriku semakin terpojok. Terhukum berdiri di depan pintu kelas, tingkat sekolah menengah pertamaku.

”Hahaha, si Jelek di setrap! Makin jelek aja!”

“Emang nasib orang jelek nggak pernah bagus!”

”Orang tua kamu ngidam apa, sampai kamu kayak gini!”

Caci maki, tertawaan mengejek bertubi-tubi dilimpahkan kepadaku. Mungkin lebih baik aku menerima sakit dari pecutan sabuk ayah daripada pecutan makian kata-kata yang menorehkan bekas yang dalam di hatiku.

Rasa-rasanya ingin kusumpal mulut mereka dengan kaos kaki atau kulempari mereka dengan sepatuku, namun aku hanya bisa terdiam, mendengarkan mereka berceloteh, mengumpat seolah-olah aku makhluk menjijikan yang tidak pantas ada di muka bumi ini. 

Sekali lagi aku menderita sakit yang berkepanjangan di hatiku.

Tapi aku tak pernah memiliki setitik keberanian sedikit pun, aku hanya
diam membisu walau hatiku berontak tersakiti.

Sampai kapan aku bisa bertahan, tekanan dari luar mendesakku begitu
dashyat. Ingin aku meremas, membakar mulut mereka tapi ku tak kuasa.

Putus asa.

Setiap hari berulang kejadian dan perkataan ”Jelek!” berulang-ulang kudengar sampai menusuk hatiku. bahkan lebih sakit dari luka bakar yang pernah kuderita.

Hanya Ibuku yang masih memberikan semangat, tetapi tak sanggup menyembuhkan sakit di hatiku. Bahkan diriku pun ikut membencinya.

Jika ku bercermin, “Jelek” itu juga yang kulihat, Seperti menyetujui perkataan bertubi-tubi yang selalu kuterima, kata itu sudah merasuki jiwaku dan membuatku bertambah benci.

Aku tak kuasa membenci diriku sendiri.

Ku mencari lantai tertinggi yang bisa kujangkau dan menempatkan diriku disana, ku tak lagi mendengar kata-kata itu, aku merasa damai. Kulihat rerumputan hijau menghampar di bawah seperti kasur lembut yang lebar dan ku melompat kesana.

Tak lagi kudengar kata-kata itu, tak lagi kugunakan tubuh yang menyakitkan itu. Aku bebas, tapi tak terbebas dari pengadilan Tuhan karena kebencianku.

Ps: a knife wound heals; a wound caused by words does not

Tuesday, February 21, 2012

G.I. JOE #20HariNulisDuet Bareng @Violetkecil


“G.I. Joe keluaran baru di sale?” Harry spontan langsung browsing setelah diberitahu teman sesama kolektor.

“Apaan sih Har?” Tanya Wendi, istrinya.

“Biasa, buat nambahin koleksi, Ma.” Jawabnya sambil mengedipkan mata.

”Pah, kok berhenti mainnya? Papa nggak asyik ahh!” Rengek Toby, anaknya yang baru berusia lima tahun.

”Sebentar yah sayang, Papa harus hunting robot G.I. Joe!” Jelas Harry.

“Papa, Toby masih mau main sama Papa.” Toby masih merengek sambil menarik-narik baju papanya.

“Toby main sama Mama aja ya?” Bujuk Wendi dan mengajak Toby keluar. “Kita ke taman, Gimana?”

Toby mengangguk dan mengekor di belakang ibunya. Dan Harry masih tenggelam dalam keasyikannya. Di awal usia 30 tahun itu ia masih saja tergila-gila pada mainan. Bahkan hingga lupa waktu dan mengabaikan waktu bermain dengan anaknya sendiri.

“Har, boneka koleksi kamu taruh yang bener nanti kalau dipakai main sama Toby, marah lagi?” Ujar Wendi menasihati karena melihatnya berserakan di lantai ruang kerja Harry.

”Iyah, bentar. Aku lagi cari-cari koleksi lamaku, ada yang mau beli lima juta loh!”

”Ah, bagus donk! Jadi bisa beliin sepeda buat Toby tuh!” Wendi memberi ide.

”Iyah, kalau ada lebihnya, mau diinvestasiin lagi cari G.I. JOE yang lain biar koleksinya lengkap.”

Selalu G.I. Joe didahulukannya. Wendi membawa Toby jalan-jalan ke mal sementara Harry masih sibuk mencari koleksinya yang harganya sedang melambung.

”Mah, Mama!” Panggil Toby.

”Ya Sayang, ada apa?” Tanya Wendi.

”Papa kenapa sih Ma, kok lebih sayang sama G.I. Joe daripada Toby?”

Wendi tersenyum kecut mendengar pertanyaan polos yang keluar dari mulut anaknya, “Papa sayang kok sama Toby, lebih sayang daripada G.I. Joe.”

“Tapi Papa lebih suka main bareng G.I. Joe daripada Toby.”

“Hm, Toby juga sayang kan sama mainan yang dikasih Papa, saat ulang tahun Toby waktu itu?”

“Iya,”

“Nah, sayangnya Papa ke G.I. Joe juga seperti itu.”

“Aaaa, Ma, Papa kapan ulang tahun? Toby  mau buat Papa lebih sayang lebih dan lebih lagi.”

Wendi tertawa kecil saat melihat ekspresi Toby ketika kalimat itu meluncur dari mulut mungilnya.

“Kapan Ma?” rengek Toby.

Wendi belum mau menjawab. Ia suka melihat ekspresi Toby. Anak kesayangan mereka, yang sedang lucu-lucunya itu.

Wendi langsung memeluknya, ”Nanti yah kita bikin pesta ulangtahun kejutan buat Papa.”

”Bener ya Ma? Toby mau bikin kartu ucapan buat papa, kayak yang diajarin mama waktu itu, pake gambar G.I. Joe, bantuin ya Mah...!”

”Pasti donk, yuk kita beli kertas dan spidolnya.”

Seminggu kemudian, Harry berulang tahun. Wendi dan Toby sudah mempersiapkan pesta kejutan untuknya.

Toby menyiapkan kartu ucapan dan ingin menaruhnya di antara koleksi mainan sang ayah. Toby melihat beberapa mainan yang tidak beraturan. Tangan kecilnya mengambil mainan-mainan itu dan bermaksud menyusunnya. Tapi tangan itu tidak cukup membawa semua mainan itu dan tanpa sengaja menjatuhkan salah satunya. Tak lama Harry datang bersama seorang teman.

”Wendi, Mah!” Panggil Harry mencari istrinya.

“Ya, Har? Aku di dapur.”

Harry berjalan ke dapur...
”Sayang, tolong buatkan minuman untuk tamu di depan. Itu temanku yang mau membeli koleksi G.I. Joe lamaku, Ia berani bayar enam juta rupiah! Aku ke ruanganku dulu, nanti tolong temani ngobrol yah!”

”Beres, Bos!”

Begitu tiba di depan ruangannya,

“Toby!”

Toby kaget dan menjatuhkan G.I. Joe yang telah patah.

”Pah, maaf G.I. Joe-nya patah yang ini”

Karena kesal, tak sengaja Harry memukul dan mendorong Toby sambil mengambil G.I. Joe yang patah tersebut. Toby terlempar dan pingsan, dari kepalanya mengalir darah segar akibat terbentur meja lemari penyimpanan koleksinya itu.

”Mahhhh! Wendi!” Teriak Harry sangat keras memanggil istrinya.

Setengah berlari Wendi menuju ke ruangan tempat penyimpanan koleksi G.I. Joe.

"Ada apa? Apa yang kamu lakukan terhadap Toby? Cepat bawa ke rumah sakit!"

Akhirnya Toby dilarikan ke rumah sakit.

Harry berjalan mondar mandir di depan ruangan. Hatinya sedang kalut, pikirannya kacau. Yang ada dalam benaknya hanyalah Toby.

“Har?” Wendi menyentuh punda Harry pelan.

“Mah...” Harry merasa sangat bersalah. Selama ini tanpa sadar ia selalu menomor duakan anaknya. Dan kejadian hari ini membuktikan semua itu.

Harry takut Toby tidak lagi membuka matanya.

“Ini pelajaran mahal buat kamu, terkadang Toby itu jauh lebih dewasa dari kamu! Lihat apa yang dia buat untuk ulang tahunmu.”

Harry memegang kartu ucapan buatan Toby dengan gemetar…membukanya hati-hati dengan penuh penyesalan. Dia lihat gambar G.I. Joe buatan Toby, dan didalamnya ada gambar orang yang ditulisi Pa-pa agak tak jelas dan anak kecil yang ditengahnya diberi gambar hati.

“Dia selalu menantikan kasih sayangmu Har, dia selalu setia menunggumu pulang kantor supaya ia bisa menyambut dan membawakan tas kerja kamu. Ia selalu dan ingin selalu membahagiakanmu agar kamu lebih memperhatikan dirinya ketimbang koleksimu itu.”

“Maafkan aku Wen, aku hilap. Semua ini salahku karena G.I. Joe yang rusak adalah yang akan dibeli temanku itu.”

Tiba-tiba dokter datang, memberitahukan bahwa Toby sudah boleh dijenguk hanya saja ia belum siuman, Wendi dan Harry bergegas menemuinya.

Dengan rasa bersalah Harry memegang tangan anaknya itu, diusapnya halus akibat perbuatannya itu, ada enam jahitan di kepala Toby dan kemungkinan akan membekas seumur hidupnya.

”Toby, bangun nak! Ini Papa.” Ujar Harry dengan perasaan bersalah, ia menciumi tangan anaknya itu dan menangis.

”Maafkan Papa, nak! Bangunlah...” Wendi pun ikut bersuara demi melihat anaknya siuman.

Semalaman mereka menunggu dan tertidur di rumah sakit menunggu Toby.

Tiba-tiba Toby siuman, tanpa merasa dendam ia berkata, ”Selamat ulang tahun, Pah! Maafin Toby yah mainan Papa jadi rusak.”


”Oh Toby, Papa yang salah nak! Papa janji nggak akan main G.I. Joe lagi! Papa akan selalu bermain sama kamu.”

Monday, February 20, 2012

TWISTED LOVER #20HariNulisDuet Day 11 With @Krisnafir


"Ah, Leythia!"

***

"Be... kapan kita ke Bali lagi?" Pinta Leythia sebelum libur akhir tahun.
"Mau year end di Bali lagi?" 
"Iyah, seru kayak tahun lalu, kita bareng-bareng Dina dan Silas yah, double date seruu!" 
"Hahaha... Iyah tapi syaratnya kamu harus bawa bikini yang sexy?"
"Dasarrr cowok, maunya! Bolehlah buat kamu sayanggg!" Leythia mendaratkan ciuman di bibirku.
"Deal, kalo gitu." 

Akhir tahun 2011,
“Be, coba seawalker yuk, mumpung cuaca cerah.”
“Aduh, aku agak flu sayang, aku temenin kamu belanja aja yah siang ini?” Tiba-tiba aku merasa malas untuk beraktivitas di Bali.
“Yaaaa..masa udah nyampe Bali cuma belanja doang??” protes Leythia.
“Iya nih, Abe ga asik. Kami aja deh yang temenin kamu seawalker Ley, ya kan Din?” timpal Silas.
“Aku ga berani Sil, kamu tau kan aku nggak jago berenang, apalagi harus menyelam.” tolak Dina.
“Jiaaaahh..ga perlu berenang Din, ini seawalker, 99% aman! Kita tinggal jalan kaki biasa di dasar laut, mukamu pun ga bakalan basah, trust me!” ucap Leythia, berusaha meyakinkan Dina.
“Umm..aku..pass dulu deh Ley, kalau banana boat sih aku masih oke..” ucap Dina, tak terpengaruh oleh bujukan Leythia.
“Kamu gimana Sil? Masih tertarik ikut seawalker?” Leythia beralih mengajak Silas, satu-satunya orang yang tersisa.
“Hayuk aja aku sih. Be, titip Dina ya!” ucap Silas, disambut senyum ceria Leythia.

Akhirnya Dina dengan ku di cottage dan Silas dengan Leythia.

”Seru yah Silas? Payah nih pada nggak ikutan.” Begitu tiba kembali di cottage mereka.
“Iyah Ley, pada jetlag yah?” Canda Silas.
“ Sorry Ley, aku nggak enak badan.”
”Iyah, maaf yah aku tinggalin. Ini aku bawain jus biar kamu segeran.”
”Aku tinggal dulu yah, Yuk Din!” Ujar Silas mengajak Dina pergi ke kamar mereka.
”Aku juga mau mandi, Be! kamu tiduran di dalam aja biar cepet sembuh, jangan di luar terus.”

Habis mandi Leythia memberikan pijatan dengan membaluri minyak kayu putih dan baby oil di punggungku, membuatku menjadi lebih baik.

”Enakkan Ley, makasih yah. Kamu emang calon istri yang baik, selalu tahu kebutuhanku.”
”Makasih pujiannya, habis nggak seru liburan bareng tapi serasa nggak sama kamu. Jadi kamu harus cepat sembuh!” Ujar Ley sambil menyelimutiku.
”Iyah, ntar malam mau ke Kudeta apa makan di Jimbaran?” Tanyaku.
”Kudeta aja deh, Be!”

Malamnya setelah minum jus dan pijatan Ley aku merasa baikan dan bersemangat kembali untuk bersenang-senang dengan kekasihku itu, Ley selalu bersemangat dalam hal apapun.

***

 Klik. Klik.
"Jangan kaku dong, katanya supermodel!" candaku, saat memotret Dina dan Leythia berlatar belakang laut lepas. Silas hanya terkekeh mendengarku.
"Wah, belum tau dia Din, pose andalan kita. Miss Universe pun lewaaaatt..." seru Leythia.
"Iya, dia lewat, dadah-dadah, kita bengong terpesona." ujar Dina kalem, disambut gelak tawa yang lain.

"Leythia dan Dina. Bagai jaket sutra bolak-balik, yang dua sisinya sama-sama indah. Sisi satunya berwarna lembut dan bermotif elegan, sempurna untuk acara formal. Sedangkan sisi satunya lagi lebih cerah dan tak bermotif, nyaman untuk keperluan kasual." batinku, seraya memperhatikan kedua gadis itu dari balik lensa kamera.   

”Foto aku bareng Abe donk Silas, nanti Abe fotoin kamu bareng Dina!” Pinta Leythia.
Foto-foto mesra itu, bikini yang sexy, Ley selalu saja tahu seleraku.

”Be, kita foto bareng juga ahhh kan double date!” Dina tiba-tiba meminta foto berdua denganku.
“Kalau gitu aku juga mau foto sama Ley donk...!” Silas langsung menarik Ley berfoto bersamanya.
Akhirnya kami tertawa bersama setelah bertukar pasangan untuk di foto.
”Silas, kamu cocok neh difoto bareng Ley, sama-sama adventurir!” Sindir Dina ketika membandingkan foto Silas jauh terlihat lebih mesra dibanding foto dengannya.
”Jangan gitu, kurang apa sih aku sama kamu Din?” Silas langsung memeluk Dina yang sedikit meronta.
”Hahaha, ada-ada saja!” Tegurku.

***

“Abe, ngelamunin siapa?” Tegur Dina tiba-tiba.
“Hey sayang, kamu lama banget sih.” Jawabku seadanya.
”Tadi aku ketemu Leythia di cafe sebelah sama cowok barunya, ya udah ngobrol deh sebentar.” 

KARENA AKU IBUNYA #20HariNulisDuet Day 10 bareng @sawitrii21


Rara terbaring lemas setelah seharian menjalani operasi pengangkatan rahim akibat kanker yang dideritanya.

"Rin, maukah kamu menolong aku?" Rajuk Rara kepada Sahabatnya.

"Tentu saja, ada apa sih?" Irini mendekatkan dirinya.

"Kamu kan tahu, suamiku sangat menginginkan seorang anak, karena
operasi ini aku tak mungkin lagi mengandung." Lirih Rara.

"Jadi apa yang bisa kubantu Ra?"
"Aku berfikir untuk memiliki anak lewat proses bayi tabung, maukah kamu mengandung anakku?" Pinta Rara dengan memelas.

Demi sahabatnya itu Irini meluluskan permintaannya.
"Akan kulakukan apa saja untuk membuatmu bahagia! Jangan khawatir, istirahatlah."

Beberapa bulan kemudian, tugas menjadi seorang ibu dilakukannya, setelah menjalani check up dan keperluan lainnya Irini melakukan proses inseminasi buatan yang dilakukan oleh dokter dan sukses.

***
Rara menyarankan Irini untuk pindah ke apartemen di sebelahnya agar lebih mudah menjenguk sahabatnya itu, karena Irini tinggal sendiri dan tidak memiliki sanak saudara. Irini pun menyanggupinya.

"O iya Rin, minggu besok jadwal check up ke dokter lagi kan?" tanya Rara, "tapi maaf, kayaknya aku nggak bisa anter, ada acara di kantor"

"Ya, sudah nggak apa-apa Ra, aku bisa berangkat sendiri kok" jawab Irini

" Gimana kalau aku aja yang anter?" tiba-tiba Garnito menyambung pembicaraan

"Benar, kamu bisa Sayang?"
Garnito mengangguk, tanda menyanggupi.

***
"Maaf ya Rin, aku baru sempat nganter kamu, rasa-rasanya aku seperti tidak tahu berterima kasih sama kamu." Garnito membuka percakapan selama perjalanan menuju rumah sakit.

"Sudah lah Tok, aku mengerti kesibukanmu"

"Ngomong-ngomong sudah masuk bulan ke lima ya? Wah nggak terasa, cepat juga"

Irini mengangguk dan tersenyum.

***

Di ruang periksa, Irini berbaring setelah suster mengolesi gel di perutnya untuk pemeriksaan USG. Ketika pemeriksaan berlangsung, dokter menemukan kejanggalan di dalam kandungannya.
”Wah, sepertinya kita akan memperoleh bayi kembar nih Rin.”
”Yang benar Dok?” tanya Irini penasaran ingin melihat layar monitor.
”Tapi saya belum pasti juga Rin, bisa nggak kamu kembali ke sini 1 atau 2 hari lagi untuk menjalani beberapa test, semoga sih baik-baik saja.”
”Memangnya ada apa Dok?”
”Saya belum bisa memastikan, bisa yah? Lusa?” tanya dokter.
”Baiklah, jam yang sama yah Dok? Bayinya sudah ketahuan belum laki-laki atau perempuan?” Tanya Irini.
”Bayi kamu perempuan, tetapi yang satu lagi saya belum pasti.”

"Ra, anak kamu perempuan dan mungkin kembar" sebaris pesan singkat masuk ke handphone Rara. Bahagia sekali Rara membaca berita itu lalu bergegas pulang sambil membawakan makanan kesukaan Irini.

"Selamat ya,  Ra" sebuah pelukan hangat melayang dari Irini. 
"Terima kasih Rin, terima kasih, mau mengandung anak kami" ucap Rara bahagia, sambil menyeka tetesan air matanya dan memeluk Garnito.
"Jadi apa kata dokter tadi, Rin?" lanjut Rara penasaran.
"Iya, tadi kata dokter kemungkinan anak kamu kembar Ra, tapi aku diwajibkan menjalankan beberapa tes untuk memastikannya, besok lusa harus balik lagi" 
"Lusa besok, aku yang akan mengantar kamu Rin, kita cari tahu sama-sama" Ucap Rara sangat bersemangat.

***

"Ibu Irini, silahkan masuk" Ucap seorang suster memanggil nama Irini masuk.

" Silahkan duduk ibu Irini,"
"Jadi bagaimana Dok, saya mempunyai anak kembar kan Dok?" tanya Irini bersemangat.
"Kembarannya juga perempuan kan Dok?" Sahut Rara, tak kalah bersemangat. Kedua sahabat itu saling melempar senyum.

Ada jeda lama diantara mereka bertiga. sang dokter tak mampu tersenyum. Rara menyadari ada yang tidak beres.

"Nggak ada masalah kan Dok dengan bayi kami." ujar Rara memecah kebisuan.
Irini memegang erat tangan sahabatnya.
”Saya belum bisa memastikan secara pasti, tetapi setelah saya amati lagi di USG terakhir, ada kemungkinan janin satunya lagi adalah sebuah tumor, sehingga Irini diharuskan untuk menjalani beberapa tes lanjutan untuk memastikan.” Ujar Dokter berusaha menenangkan.

Keduanya saling berpandangan dan Irini pun menjalani test itu seharian ditemani Rara. Selesai tes keduanya pulang ke apartemen karena Irini merasa lelah.

Esoknya ponsel Irini berbunyi, Dokter menghubunginya langsung dan menjelaskan bahwa janin kedua yang ada di dalam rahimnya adalah tumor ganas. Jika dibiarkan tumbuh akan mengancam nyawanya, ia harus memutuskannya sendiri. Ia juga meminta agar dokter merahasiakannya dari Rara.

Janin di dalam rahim menumbuhkan naluri keibuannya, ia pun tak rela jika harus mengorbankan janin ini untuk keselamatan dirinya. Akhirnya ia pergi menemui dokter seorang diri keesokkan harinya.

”Dok, tidak ada alternatif lain untuk membuang tumor ini tanpa membunuh sang bayi?”
”Rin, kamu akan tersiksa membiarkan tumor ini tumbuh demi menunggu bayi ini cukup besar untuk dilahirkan. Kita harus menunggu 3-4 bulan lagi, kamu tidak mungkin meminum obat apapun jika ingin bayi ini selamat.” Jelas Dokter.
”Dok, aku terima resikonya, yang penting bayi ini lahir dengan selamat,  saya mohon juga jangan beritahu Rara dan Garnito tentang hal ini.”
”Baiklah jika itu keinginanmu, tapi kamu harus rajin-rajin check up demi memantau kondisimu.”

Irini tak pernah memberitahukan kepada sahabatnya itu.

Bulan demi bulan dilaluinya.

Setiap tendangan lembut yang dilakukan bayinya, bagaikan ditusuk pisau beraliran listrik yang mengalir ke seluruh tubuhnya, sakitnya luar biasa dan ia tak bisa meminum obat penahan sakit.

”Kenapa Rin?” Tanya Rara.
”Si kecil menendang.” Ringis Irini sambil tersenyum.
”Ah, yah? Boleh aku merasakannya?”
”Tentu.”

Kondisi Irini semakin parah, tetapi ia tetap menyuap makanannya walaupun ia tidak bernafsu, demi bayi yang dikandungnya.

Memasuki bulan ke sembilan, Irini tak sanggup lagi menahan sakit dan ia jatuh pingsan, Rara menemukannya, dengan dibantu Garnito mereka langsung membawanya ke rumah sakit.

Dokter langsung melakukan operasi caesar demi mengeluarkan bayi itu.

Bayi itu selamat ... tetapi Irini tidak.

Seketika itu Rara langsung lemas dan pingsan di pelukan Garnito mendengar pemberitahuan dokter.

”Ra, maafkan aku karena tidak menceritakan tentang tumor di rahimku ini. Aku juga tak ingin mengecewakanmu karena telah jatuh cinta kepada bayi ini, aku tak akan rela memberikan bayi ini untukmu jika aku hidup. Karena aku ibunya, aku memutuskan dia untuk hidup. Kuyakin, jika kuceritakan tentang hal ini sejak awal kamu akan menyuruhku menggugurkannya. Tolong rawatlah ia dengan baik, aku yakin kalian akan menjadi orangtua terbaik untuknya.” Irini memeluk dan mencium kening Rara dan pergi menghilang.

”Irini...jangan tinggalkan aku!” Teriak Rara.
”Ra, sadar Ra...!” Ujar Garnito berusaha membangunkan Rara.

Rara terbangun menangis dan memeluk Garnito. Tak lama dokter membawa mereka menuju ruang inkubator tempat bayi itu dirawat. Dari balik kaca mereka melihat bayi mungil yang masih terpejam seolah tersenyum kearah mereka. 

Sunday, February 19, 2012

Psstttt….! (Telunjuk Di Depan Bibir) #20HariNulisDuet Day 9 with @Opathebat


Jenny dan Fabian sudah pacaran lama, tetapi di tahun ketujuh ini karena kesibukkan
mengejar karier masin-masing percintaan mereka hanya menjadi rutinitas saja.

Hari Jumat setelah pulang kantor,
"Hai Fabian, malam minggu jadi makan malam bersama?" Jenny menelepon Fabian.
"Hai Jen, jadi donk, tapi jam berapanya aku harus tunggu selesai
meeting sama bosku yah?"
"Kan besok hari Sabtu, masak kamu harus kerja juga?" Tanya Jenny lagi.
"Iyah, maaf Jen. Aku nggak bisa nolak bos, kamu kan tahu bagaimana
karakter bosku, maaf yah?"
"Baiklah, tetapi kita pasti makan malam bareng yah?" ujar Jenny memastikan.
"Iyah, pasti. Sabar yah sayang." Rajuk Fabian.
"Ok, sampai ketemu besok." Jawab Jenny sambil menghela nafas,
menyiratkan kekecewaannya.

Malam minggu, sudah pukul delapan malam tapi Fabian belum datang juga.
Dicobanya beberapa kali menelepon Fabian tapi tidak diangkat. Tiga jam kemudian barulah ia datang ke rumahnya dan hanya bermalam minggu di rumah saja.

Minggu depannya mereka janjian pergi menonton bioskop tetapi Fabian datang terlambat padahal Jenny sudah membelikan tiket dan menunggunya. Terpaksa ia menonton sendirian sampai selesai. Lima belas menit kemudian, "Sayang!", Fabian hampir berteriak memanggil Jenny yang sedang duduk di lobby menunggunya.
Fabian datang tidak sendirian namun dengan rekan sekantornya.

"Maaf ya aku telat. Macet banget tadi. Eh film-nya udah selesai? Kita
makan langsung aja ya. Nggak papa kan?".
Jenny mengangguk sambil mencoba tersenyum. Kembali lagi ia kecewa.

Begitu juga malam minggu berikutnya. Setiap kali berkencan hanya seperti rutininas lapor diri.

"Bo, udah liat berondong baru belom, bo?", Via teman sekantor Jenny
menyapanya di kantor hari Senin dengan gosip baru.
Jenny menggeleng. Ia tahu akan ada mahasiswa yang magang di kantornya
tapi itu saja. Selebihnya tidak ada yang menarik perhatiannya. Sudah
banyak mahasiswa yang keluar masuk kantornya untuk magang selama
beberapa bulan. Jenny tidak membenci mereka namun juga tidak punya
alasan untuk bergaul dengan anak magang.

Sampai ia bertemu Adrian, mahasiswa semester 7 yang mulai magang hari
ini. Adrian adalah pemuda biasa. Bukan tipe pemuda yang akan membuat
seluruh gadis melirik. Tapi hanya dengan melihatnya berkata-kata
dengan beberapa pegawai, Adrian terlihat hangat dan simpatik.

"Pagi Bu!" Sapa Adrian, begitu Jenny melewatinya.
"Pagi!" Balas Jenny pendek.
"Bu, boleh bicara sebentar?" Tanpa sadar ternyata Adrian mengikuti
Jenny sampai di depan ruangannya.
"Oh, ada apa yah?" Tanya Jenny keheranan.
"Kalau diperbolehkan, saya ingin magang di divisi ibu?"
"Hmm, bukannya kalau magang itu sudah diatur oleh HRD?" Jenny balik bertanya.
"Iya Bu, tetapi saya ingin berbeda dengan yang lain dan HRD bilang
harus minta ijin langsung ke Ibu." Jelas Adrian sopan.
"Oh begitu, memang kamu kuliah jurusan apa? Maaf, silahkan duduk."
Jenny berakhir mewawancarai Adrian.

Melihat sopan santun dan resume Adrian, akhirnya ia mengijinkan Adrian
magang di divisinya  dan menjelaskan ke HRD masalah penempatan Adrian.
Jenny biasanya malas menerima anak magang atau memberikan training, ia
selalu mencari pegawai yang 'sudah jadi' tetapi entah mengapa untuk Adrian, ia mau
melakukan pengecualian.

Dan di sanalah Adrian, setiap hari berinteraksi dengan Jenny.
"Bu, belum pulang?", Adrian bertanya pada Jenny yang termangu di depan jendela.
"Tunggu jemputan ya, Bu?", tanya Adrian lagi.
Jenny hanya melihat Adrian sekilas.
"Ah maaf. Saya pulang duluan Bu. Permisi".
"Eh tunggu!".
Adrian berbalik arah.
"Saya juga mau pulang, ke bawah bareng ya!".

Kantor Jenny berada di lantau 18. Perlu waktu kurang lebih tiga menit untuk turun ke lantai dasar. Lebih jika setiap lantainya pintu terbuka untuk menampung para pegawai yang mau turun juga,
"Baik Bu, saya tunggu di depan resepsionis yah." Jawab Adrian.
Ketika Pintu lift terbuka dengan sigap Adrian menjaga pintunya supaya tidak tertutup demi Jenny. Akhirnya Jenny datang setengah berlari.
"Terima kasih, sudah menungguku!" Ujar Jenny agak kikuk.
Karena lift penuh, mereka tidak nyaman untuk mengobrol jadi mereka diam selama perjalanan ke bawah.

Saat sampai di lobby,
"Kamu kalau habis kerja biasanya ngapain aja?" Tanya Jenny lagi.
"Biasa Bu, anak muda paling juga Ibu tidak akan tertarik." Jawab Adrian.
"Hahaha, kamu menghina saya? Memang saya terlihat tua sekali apa?" Tegur Jenny.
"Tidak Bu, maaf! Adrian menjawab agak takut-takut.
"Memang kalau anak muda ngapain aja sih?" Sindir Jenny.
"Yah bu, paling juga ke mall, main bowling, billiard atau nggak ke bioskop pas nomat." Jelas Adrian.

Tiba-tiba ponsel Jenny berdering, ternyata sms dari Fabian yang menjelaskan terjebak macet sehingga tidak bisa menjemputnya tepat waktu.

Melihat mimik kekecewaan di wajah atasannya, Adrian langsung bersimpati.
"Ada apa bu?"
"Tidak ada apa-apa, hanya yang menjemput akan terlambat datang karena terjebak macet." Jawab Jenny dengan nada kecewa.
"Kalau Ibu mau, Ibu bisa ikut saya ke gedung sebelah main billiard sambil nunggu yang jemput datang, bagaimana?"
Entah mengapa Jenny langsung mengiyakan dan mengikuti Adrian berjalan ke gedung sebelah, tanpa disadari beberapa rekan sekantor mereka memperhatikannya.

"Ibu ternyata jago juga mainnya!" Puji Adrian setelah beberapa kali Jenny berhasil memasukkan bolanya.
"Kalau disini jangan panggil Ibu yah, cukup Jenny saja. tapi di kantor tetap!" Ungkap Jenny.
"Baiklah Bu, Jangan khawatir!" Jawab Adrian sambil tersenyum.
"Maksud saya Jenny!"
"Giliran kamu tuh!" Ujar Jenny melepaskan stik billiardnya.

Tak terasa mereka bermain disana lebih dari 2 jam dan akhirnya ponsel Jenny berdering, Adrian telah menunggu di Parkiran di depan kantor. Jenny langsung kesana.
Begitulah rutinitas mereka, jika Fabian terlambat atau tak bisa menemani, Jenny langsung pergi dengan Adrian.

Berbeda dengan Fabian, Adrian menghujaninya dengan perhatian. Setiap hari Adrian tak pernah lupa membawakan kopi kesukaan Jenny. Adrian pun sedikitnya memberikan perubahan pada penampilan Jenny, dari wajah yang di poles make up, rambut baru, bahkan cara berpakaian karena Adrian pernah bilang bahwa dirinya akan jauh lebih cantik jika berdandan.

”Kamu akhir-akhir ini berbeda, terlihat lebih menarik, apa rahasianya?” Tanya Via di pantry.
”Ah, biasa aja. Memang kenapa?” Tanya Jenny.
”Yahh, berbeda saja gara-gara sering jalan sama berondong yah? Itu tuh anak buah kamu yang baru.” Goda Via.
”Gila kamu, aku kan sudah ada Fabian.” Jawab Jenny.

Di ruangan lain di kantor itu,
”Dri, gue dengar lo dilulusin jadi karyawan tetap sama Bu Jenny. Selamat yah!”
”Terima kasih, memangnya lo enggak?”
”Kagak gue selesai magang, ya sudah. Ada saran buat gue?”
“Karena lo temen gue, gue kasih tahu rahasianya tapi jangan bilang siapa-siapa yah!”
”Iyah janji, apaan?”
”Kecengin deh atasan lo!”