Saturday, March 17, 2012

#FFHore Aku Sakit Hati Karenamu, Gigi!


Paling risih kalau harus tertawa, karena susunan gigi bagian atasku jauh lebih mancung ketimbang yang bawah. Yah, aku sama seperti manusia lain yang tidak mensyukuri keadaan fisiknya. Tidak jelek, hanya hal tersebut mengurangi rasa percaya diri.

Padahal posisinya di dalam mulut tapi ternyata sangat mempengaruhi tampilan wajah secara keseluruhan. Mungkin beberapa orang tidak perduli jika ke-32 bagian ini tumbuh tak beraturan atau mungkin juga karena tidak ada biaya lebih untuk itu, seperti aku. Untuk biaya kuliahku saja orang tuaku harus mencicil ke Bank dengan menggadaikan rumah.

Dengan berat 50 kilogram, tinggi 175 centimeter dan lingkar dada 34 B sebenarnya sudah cukup untuk menjadi model tetapi tiap-tiap kali ikut casting,
”Sayang, padahal badan kamu itu oke! Bahkan sebagai model dada kamu tidak rata, cukup berisi, hanya... kurang cantik dari samping. ” komentar seorang produsen iklan.

”Di behel dulu deh, baru nanti kembali ikut casting lagi disini.” Ujar seorang desainer.

Selalu saja disinggung soal itu lagi. Sakit hati jadinya, karena gigiku ini.

Bagaimana bisa jadi model, baru mencoba amatiran saja sudah ditolak. Kejamnya dunia ini, soal fisik selalu dipermasalahkan. Kapan bisa mempercantik diri, jika memulainya saja sulit.

Akhirnya aku menyerah, setiap kali ada lowongan casting kutepis. Hingga suatu saat ada pengumuman dari Kampus Kedokteran Gigi; ”Dicari Pasien untuk Memakai Behel Gratis”

Aku pun mencari si pemilik pengumuman itu ke Kampus Kedokteran Gigi.

”Hai, aku mencari Anton yang memasang pengumuman ini.” Tanyaku kepada salah seorang mahasiswa disana.

” Tonnn! Ada yang cari kamu tuh, calon pasien!” Teriaknya.

”Hai, Anton. Kamu mau, jadi bahan percobaanku?” Tanyanya ragu setelah memperhatikanku dari bawah sampai atas.

”Memangnya kenapa?”

”Habis kamu sepertinya tidak punya masalah soal fisik, mengapa mau memakai behel?”

”Coba perhatikan baik-baik susunan gigiku ini!” aku langsung membuka mulutku di depannya.

”Hmm, sebenarnya masalah kamu ada di rahang bukan di gigi. Tetapi bisa diperbaiki lewat pemasangan behel juga sih, tapi kasus yang kucari bukan yang seperti ini, yang benar-benar kacau sekali susunannya, yang giginya tumpang tindih demi pemenuhan kasus untuk jurusan Orthodontis-ku ini. ”

Habis harapanku untuk memperbaiki susunan gigiku ini, begitu mendengar perkataan Anton.

”Eh, tetapi kalau kamu mau, aku masih bisa membantumu sih. Cobalah datang ke klinik tempatku KKN.” Sambil menyodorkan sebuah kartu nama.

”Benarkah? Tetapi aku berniat mencari yang gratisan, karena kutahu biayanya pasti menghabiskan delapan juta keatas.” Jelasku lagi.

”Iyah, bisa diatur kok pembayarannya.” Ujarnya lagi.

”Oh, Baiklah.”

”Terima kasih yah untuk merespon pengumumanku.”

”Sama-sama.”

Akhirnya aku mengunjungi klinik itu dan ternyata harus membuat janji terlebih dahulu untuk bertemu dengan dokter gigi yang dimaksud tepatnya orthodontis, ternyata berbeda antara dokter gigi umum, ahli bedah mulut dan orthodontis. Baru tahu aku.

Kalau untuk tambal gigi dan cabut gigi itu biasanya dengan dokter gigi umum. Kalau masalah gigi belakang yang tumbuh terlambat atau miring dan membutuhkan operasi besar karena mengganggu, harus dengan ahli bedah mulut lalu mengenai masalah kecantikan atau estetika itu bagiannya orthodontis.

Akhirnya aku datang kembali dan bertemu dengan dokter Rudi bagian orthodontis di klinik tersebut dan Anton pun ada disana bertindak sebagai asistennya.

”Hai, terima kasih mau berkunjung ke klinik.” Sapa Anton ramah.

Mereka berdua mengamatiku lama sekali dari ujung kaki sampai rambut dan terlihat berdiskusi kusyuk lalu mempersilahkan aku duduk di kursi periksa.

”Silahkan duduk!” Anton mempersilahkan aku duduk dan menarik meja berisi alat-alat untuk mempermudah diriku mendudukinya.

Ketika menutup kembali meja itu tak sengaja tercium parfumnya, segar dan wangi. Juga kulihat ia memakai kalung emas di lehernya ketika ia menundukkan badan memakaikan tissue penadah air liur di dadaku.

Sang dokter akhirnya memeriksaku, bahkan mencetak gigiku. Sekali lagi mereka berdua mengamatiku.

Setelah pemeriksaan selesai, aku menanyakan biaya dan cara pembayarannya.
”Jadi bagaimana Ton, Dokter Rudi?”

”Gampang, dua hari lagi kembali yah untuk cabut gigi.”  Jawab Dokter Rudi dan di tambah kedipan Anton.

”Jadi gigiku harus dicabut juga?” Tanyaku agak sedikit ketakutan.

”Iyah, kalau mau di behel harus dicabut giginya dan untuk kamu harus 4 gigi seri di depan , 2 atas dan 2 bawah agar seimbang untuk menarik rahang atas menjadi selaras dengan rahang bawah.” Jelas dokter Rudi lagi.

”Tenang, nanti pada saat dicabut kamu tidak akan merasakan apa-apa kok.” Tambah Anton.

”Lalu soal biaya bagaimana?” Tanyaku lagi.

”Gampang, dokter Rudi yang mengatur.” Jawab Anton.

”Baiklah.”

Aku memang sedikit heran, tapi inilah saatnya aku memperbaiki diri. Beruntung aku menemukan pengumuman itu, lagipula Anton juga orangnya lumayan.

Sejak saat itu aku rajin menyimpan lowongan casting model. Walaupun mungkin membutuhkan waktu tetapi biasanya setelah memakai behel, seperti temanku ia sudah bisa berkarir di catwalk.

Aku kembali ke klinik itu dua hari kemudian, sepi tak ada pasien lain selain diriku. Sepertinya aku adalah pasien terakhir, pikirku. Kuberdoa dalam hati untuk mengusir ketakutan dan bayangan kesakitan setelah dicabut nanti.

”Hai, Silahkan masuk!” Anton mengajakku masuk ke ruang periksa.

Sambil tersenyum aku mengikutinya. Ia pun mempersilahkanku duduk di kursi periksa dan tak lama dokter Rudi pun datang.

”Sudah siap kehilangan gigi?” Tanya dokter Rudi.

Mengangguk ragu.

”Hahaha, jangan khawatir tidak akan sakit kok.” Mereka mencoba menenangkanku.

”Ahh, itu apa dok?” ujarku begitu melihat jarum suntik.

”Ini supaya kamu tidak sakit, coba kemarikan lenganmu.” Anton menarik lenganku dan mengusapkannya dengan kapas beralkohol.

”Kok di lengan dok?” Ujarku sedikit heran, seingatku biasanya mereka menyuntikkan di gusi seperti waktu pencabutan gigi gerahamku beberapa tahun yang lalu.

”Iyah, kamu tidak mau merasa sakit kan?” Jawab dokter Rudi santai.

Ketika mereka akan menyuntik, terdengar suara keras dari luar.

”Dokter maksiat! Keluar kamu!”

Pintu ruang periksa di dobrak keras, kulihat beberapa bungkus Durex berjatuhan dari sebuah box akibat guncangan pendobrakan itu, empat orang memegang pistol mengecam dan langsung memborgol dokter Rudi dan Anton yang masih terperanjat.

”Hai, kamu tidak apa-apa?” Tanya salah seorang dari mereka.

” Tidak, ada apa ini?” Tanyaku heran.

”Kamu Astri kan?”

Kujawab dengan anggukan.

”Kami dari kepolisian dan menurut laporan resepsionis di klinik ini akan terjadi lagi penipuan terhadap gadis yang ingin memakai behel gratisan. Sudah banyak kasus yang kami dengar tentang dokter dan asistennya ini. Kami harap kamu mau menjadi saksi di pengadilan nanti, untuk mengadili dokter gigi maksiat ini.”

Masih tertegun di kursi periksa. 


*another FF by @victoriadoumana 

No comments:

Post a Comment